hmmm suatu hari selepas sholat magrib saya membuka netbuk kesayangan, lalu menonton film Gie yang udah lama saya simpan di hardisk saya. ya.... sbenernya saya udah nonton film itu beberapa kali, ga pake bosen. film yang menurut saya keren banget, ditambah dibintangi sama aktor paporit sayah, jadi weh makin keren, lain heureuy. konflik di filmnya juga cukup seru, dari mulai sarat dengan bumbu2 politik, rasis, sampe asmara. dan entah mengapa setiap smangat saya mulai defisit, saya selalu menyempatkan diri buat nonton ini film.
menurut saya pribadi film ini bukan sekedar menceritakan tentang seseorang yang merindukan pemerintahan yang bersih dari korupsi dan kehidupan politik yang tidak berpihak pada golongan, ras, dan agama. tapi ada sisi2 lain yang sangat menarik. disini saya menilai sosok Soe Hok Gie adalah sosok yang romantis, merindukan politik yang bersih, yang tidak mementingkan suatu golongan, idealis, dan teguh pada pendirian ~selama yang dilakukannya adalah suatu kebenaran tentunya~ bahkan dia pernah bilang bahwa dia ga ingin jadi pohon bambu, tapi pengen jadi pohon oak yang selalu menantang angin.
adegan yang sangat menginspirasi adalah ketika Gie dan kawan2nya berkemah di suatu tempat sesaat setelah mereka dan kawan2nya yang tergabung di Senat Mahasiswa dituntut bubar. saat itu Herman Lantang, salah seorang sahabatnya Gie bertanya sama si Gie kenapa dia harus melakukan perlawanan? kenapa dia (Gie) selalu jadi orang yang doyan protes? dengan santai dia menjelaskan bahwa intinya jika kita hanya diam ga melawan, kita ga bakalan tau kesempatan baik apa yang sebenarnya kita punya. bahkan saat ditanya seperti itu Gie langsung ingat sahabat kecilnya, Han. Han pernah menanyakan pertanyaan serupa ketika saat itu nilai Gie di sekolahan dipotong oleh gurunya karena Gie protes pada saat belajar sama gurunya. tapi saat itu Gie cuma jawab bahwa kita ga bisa hidup bebas kalo kita ga ngelawan, berontak. mereka (tokoh kemerdekaan) berani melawan kesewenang-wenangan.
setelah nonton sampe beres film itu saya jadi inget pas dulu zaman SMA. waktu itu saya jadi orang yang lumayan "kritis", ga cepet puas sama keadaan yang ada. lambat laun saya mulai tergabung ke aktivitas yang intinya agak mengkritisi segala kebijakan siapapun (terutama pemerintah) yang ga masuk akal. turun ke jalan, aksi damai, kontak tokoh, menyebar propaganda2 ideologis, dll. namun akhirnya sekarang saya tak lagi begitu.
ya... ga tau kenapa akhir2 ini saya malas nonton berita, terutama berita politik. entah itu masalah korupsi, rebutan jabatan, atau kebijakan2 pemerintah. berita2 yang disajikan ga jauh beda kaya sampah. bikin hati pegel ajah. masalah2 yang diberitakan hanya masalah itu2 aja yang dipoles dengan beribu kebohongan, dusta!!!
mungkin ga semua orang bisa nyaman dengan kondisi kaya gini. seenggaknya ada beberapa golongan dengan cara masing2 buat ngadepin fenomena ini;
1. orang yang ngerasa ga nyaman sehingga melakukan sesuatu agar mendapat kesempatan hidup yang lebih baik
2. orang yang tau kebusukan yang ada, tapi ga mau bertindak
3. orang yang bener2 buta atau dibutakan oleh keadaan yang ada.
#salam pembebasan
asik asikk, sama yah, saya juga pecinta banget pelem GIE,,
BalasHapusjadi pengen buka lagi filenya baca ini. huhuhu