wajahnya rapuh saat mentari manis tersenyum,
menandai sebuah luka yang lama menganga,
raut kesombongan tak juga lenyap dengan segera,
kamu dan dia tertawa diatas otak nyata,
beribu kebohongan mengalir dengan sendirinya,
menghiasi fakta yang terucap dengan biasa,
lalu berputar dalam lingkaran kebodohan,
dan tersungkur hina dalam kemunafikan.
*migrasi: http://my.opera.com/dealfyanov/blog
akhirnya singgah disini..
BalasHapusternyata akang puitis juga. hhe
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusdan kini kerapuhan semakin nyata adanya...
BalasHapus